<< January 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Jan 23, 2005
MalamTahun Baru

Sebenarnya tulisan ini maunya ditulis beberapa hari yang lalu, paling tidak sehari atau dua hari setelah Malam Tahun Baru. Tapi somehow jadinya mundur banget. Basically sih gue cuman mau bicara ngalor ngidul mengenai sebagian dari Malam Tahun Baru 2005 yang gue lewati kemarin.

Sebagaimana di tahun-tahun sebelumnya, gue engga pernah menganggap Malam Tahun Baru –dan juga tahun barunya- sebagai sesuatu yang spesial. Lagian kenapa juga? Toh gue engga melihat ada sesuatu yang berbeda secara prinsip pada Malam Tahun Baru, compared to malam-malam lainnya. Sama aja kayak pergantian hari yang setiap hari kita alami. Hanya aja kebetulan hampir di seluruh dunia menjadikan malam itu sebagai malam dimana terjadi pergantian tahun, dalam konteks sistem penanggalan Masehi. Kalau gue mau, bisa aja gue bikin sistem penanggalan yang lain, dan Malam Tahun Baru akan jatuh di waktu yang berbeda. So what? Tapi ya mungkin yang mau ngerayainnya cuman gue ajah:)

Berhubung si Koko batal dapet job ngemsi pada Malam Tahun Baru 2005 ini, jadinya dia ikutan ngerayain pergantian tahun di rumah keluarganya di daerah Ciganjur. Kebetulan pula hari sebelumnya Iwan kasi gue info mengenai acara untuk mengisi malam pergantian tahun dengan iktikaf di Masjid Bank Indonesia dan Masjid Sunda Kelapa. Sejak Iwan kasi info itu, gue memang udah tertarik untuk datang ke acara di Masjid, cuma belum menentukan mau ke Masjid yang mana. Terutama musibah di Aceh dan Sumatera Utara lah yang membuat ngerasa risih kalau melewatkan Malam Tahun Baru dengan sesuatu kegiatan yang berbau senang-senang. Gue ngerasa malu dan engga pantes. Alternatif yang ditawarkan Iwan itu jauh lebih mengenai di minat gue. Sebetulnya kalau si Koko jadi ngemsi, pastilah gue akan temenin dia (meskipun sebenernya gue sih pinginnya tetap pergi ke Masjid aja). Nha karena jobnya pun batal, akhirnya si Koko ke Ciganjur, dan gue dengan acara gue sendiri.

Sampai last minute gue masih belum bisa nentuin mau ke Masjid yang mana. Tanggal 31 Desember 2004 sore, after nganterin si Koko ke St. Theresia untuk misa Malam Tahun Baru, gue trus pulang. Biasalah, gue leyeh-leyeh dulu, males-malesan sampai jam 8 malem lebih dan masih juga belum nentuin mau ke Masjid yang mana. Sebelumnya sih gue keinginan gue lebih kuat untuk ke Sunda Kelapa (Sunklap), karena gue pikir disana acaranya lebih ke arah dzikir dan doa aja, sedangkan di Masjid BI menurut Iwan acaranya ada banyak ceramah. Iwan udah menentukan pilihan untuk ke Masjid BI aja, karena menurut dia topik ceramahnya cocok buat dia. Sedangkan gue, secara gue mood-nya sedang ingin menghayati kehidupan para suster di Biara Trapistin (duh, tuh buku Sidney Sheldon yang udah belasan taun lewat dibaca, masih aja suka muncul di dalam kepala :)), makanya gue koq rasanya lebih berminat ke Sunklap aja.

Tapi biasalah, si gueh, rencananya suka berubah-ubah ‘mulu. Mungkin karena di bawah sadar ngerasa sedang punya luxury of having choices yang semua choices itu ga ada resikonya. Loe mau kesini boleh, kesono juga boleh. Tinggal pilih aja yang loe suka. Pokoknya gue punya authority penuh, dan apapun yang dipilih ga bakal jadi keputusan yang salah. Nha ujung-ujungnya kepikir di benak gue, kan gue udah pernah ngerasain iktikaf di Sunklap, sedangkan gue belum pernah masuk ke Masjid BI. Lagian, apa ya seru kalau cuman sendirian aja di Sunklap; biar ‘gimana, ini kan bukan bulan Puasa, mungkin gue bakal ga terlalu tahan untuk menjalani ritus kesunyian dalam waktu yang panjang di dalam Masjid dengan berbagai macam sholat, dzikir, doa dan pembacaan Al Qur’an. Pastilah gue sebentar-sebentar pingin ngobrol dan rumpi. Kalau ga ada sparring partner, bingung dong? Akhirnya di saat-saat terakhir gue mutusin untuk pergi ke Masjid BI aja, biar bisa ngeganggu konsentrasi Iwan Van Pejompongan dengan cara ajak-ajak dia ngerumpi pada saat ngedengerin ceramah.

Gue langsung milih naik ojek, secara gue curiga bakal susah ngedapetin taksi. Maka hinggaplah gue ke boncengan (ya jelas bukan ke pangkuan dong!) tukang ojek dari mulut jalan masuk ke tempat kos gue di Setiabudi nan permai.

Meluncur melalui Jalan Setiabudi Tengah ke arah Four Seasons, kemudian menuju Landmark dan kolong BNI, gue ngerasa somehow lega, ringan dan senang karena gue lihat jalanan sedemikian sepi. Wah, orang-orang pada ga mau turun ke jalan nih karena prihatin atas bencana tsunami, begitu pikir gue. Bahkan di lampu merah di mulut kolong BNI itu gue lihat juga lengang, dari arah Shangri La dan Pejompongan arus mobil juga biasa aja, cenderung sepi malah.

Makanya, it was kinda surprising, and in fact membuat gue merasa lega, ringan dan senang karena ternyata orang Jakarta nih masih pada tau diri juga ya, saat saudara-saudaranya di Aceh dan Sumut sedang habis-habisan dilanda cobaan yang amat sangat berat, mereka bisa menahan diri untuk tidak berhura-hura di Malam Tahun Baru. Ya mesti cengli lah, wong di luar negeri aja banyak yang memilih untuk mengganti pesta tahun baru dengan acara yang lebih berwarna perenungan dan doa karena adanya musibah yang amat besar ini, mosok orang Jakarta malah pada turun ke jalan and bergembira-ria?

Ternyata Malam Tahun Baru kali ini berbeda, dan ini melegakan, pikir gue sambil terus melaju di boncengan ojek melewati tikungan yang menanjak memasuki Jalan Sudirman…. BUT THEN…Oh My God! Begitu sampai di sisi Jalan Sudirman, gue melihat barisan ratusan orang, ribuan maybe, berjalan di atas trotoir Sudirman, ada yang berkelompk-kelompok, ada yang berdua-dua, ada yang kelihatannya seperti ibu-bapak dan anak, banyak diantaranya memegang terompet yang most probably mereka baru aja beli di pinggir jalan karena di sepanjang trotoir banyak nongkrong pedangan terompet. Mereka semua berjalan ke arah Thamrin, entah mau kemana exactly. Ya jangan tanya pula bagaimana keadaan jalan rayanya, tentu aja penuh dengan mobil, sisi kirinya pun sesak dengan motor-motor. Memang belum sampai ke kondisi macan tutul alias macica muhtar alias macet total, bisa dibilang baru tahap padat aja, dan kendaraan masih bisa berjalan dengan perlahan-lahan. Maybe that’s why ruas jalan di bawah Sudirman tadi (kolong BNI dan sekitarnya) masih relatif lengang, karena situasi Sudirman belum sedemikian ekstrim sampai harus mengimbas ke sekitarnya dan juga mungkin belum semua orang yang ingin keluar rumah sudah actually berada di jalanan.

Gue jadi terhenyak. Rasa ringan, lega dan senang pun menguap entah kemana. Apalagi gue juga harus menghadapi kondisi jalanan yang padet merayap, sedangkan gue berada di boncengan ojek yang juga harus merayap di sepanjang kiri Jalan Sudirman ke arah Thamrin sehingga gue mesti menghirup udara malam Tahun Baru yang penuh asap knalpot tanpa perlindungan. Asepnya itu lho, asepnya! Dan waktu tempuh gue sampai ke Masjid BI kan masih panjang karena keadaan jalan yang merayap gitu.

Dengan berusaha menghemat nafas gue dengan menghirup udara sehemat dan sejarang mungkin (percuma dong ikutan olahraga pernafasan kalo engga bisa beginian…), gue perhatiin keadaan sekitar gue. Ada anak-anak, ABG, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu, di atas trotoir semuanya berjalan kaki ke arah Thamrin. Dari ekspresi yang bisa gue tangkep, it was obvious bahwa mereka memang keluar rumah untuk have fun, to celebrate something(!). Enggak semuanya jalan kaki sih. Ada juga yang duduk di trotoir and di halte bus, ngeliatin orang-orang yang sedang jalan di depan mereka. Untungnya sih, kalau mau dibilang untung, ga banyak orang yang niup terompet, kebanyakan cuman nenteng-nenteng aja tu terompet di tangan. Jadi ga terlalu berisik.

Di atas jalan raya, mobil-mobil makin lama makin padat. Gue sempet perhatiin ada mobil yang jendelanya setengah dibuka, isinya bapak-ibu dan anak-anaknya yang masih lumayan kecil, umur-umur TK-SD gitu lah. Anak-anak itu nampak bergembira dengan terompetnya masing-masing yang sesekali mereka tiup. Kelihatan juga ibu mereka dengan wajah sumringah, encouraging anak-anaknya untuk bergembira. Yang ada, di dalam kepala gue ngomong, duh bapak-ibu, kalian tuh dari mana mau kemana sih? Apakah cuma kebetulan lewat jalan Thamrin karena akan atau baru saja melakukan sesuatu yang penting, misalnya silaturahmi ke rumah kerabat ; atau memang sengaja keluar rumah untuk bersenang-senang di Malam Tahun Baru? Seandainya alasan yang terakhir ini yang menjadi penyebab kalian keluar rumah, kapan bapak-ibu akan mulai mengajarkan adik-adik kecil itu, anak-anak kalian, untuk berempati terhadap penderitaan orang lain? Bukankah ini waktu yang sangat tepat untuk memulai hal itu? Instead of…duh, berat deh rasanya hati ini. Kemana rasa ringan yang tadi ada di dalam hati saat gue baru beberapa saat melaju di boncengan ojek?

Seiring dengan terus berputarnya roda ojek yang gue naikin mendekati Masjid BI, rasanya koq perasaan gue semakin lama semakin berat. Berat, karena dihimpit rasa prihatin dan sedih melihat keadaan di sekitar gue ini. Kemana empati sodara-sodara gue ini? Apakah mereka gak sempat mencoba –sebentar aja- membayangkan apa yang dialami sodara-sodara kita yang lain yang menjadi korban tsunami? Punya apakah mereka saat ini untuk dirayakan? What’s to celebrate? Rumah hilang, musnah. Harta benda habis. Keluarga pun mungkin hilang entah kemana. Sangat mungkin kondisi badan dan psikis pun sakit. Sangat mungkin dengan luka parah disana-sini. Tapi tidak ada yang merawat mereka dengan sepatutnya. Hal-hal yang paling mendasar dari kebutuhan manusia hampir-hampir tidak mereka dapatkan saat ini. Bisa dibilang kehidupan mereka telah terenggut. Dan entah kekuatan sebesar apa yang mereka butuhkan untuk bisa memulai lagi semuanya dari nol?

Sempat terpikir di dalam benak gue, lebih baik berusaha untuk mengerti daripada mencela. Gue berusaha membayangkan gue adalah salahsatu dari orang-orang yang sekarang sedang memadati pinggir Jalan Sudirman ini. Apa yang gue tau mengenai apa yang mereka harus lalui sehari-hari? Mungkin yang harus mereka hadapi dari hari ke hari di Jakarta ini jauh lebih berat daripada yang gue alami sendiri. Mungkin mereka juga udah akrab dengan kesusahan, dengan kesempitan, dengan penderitaan. Mungkin mereka berpikir, kalau soal susah dan menderita, gak cuman orang Aceh atau Sumut, tiap hari juga kita udah alami; mosok pingin bersenang-senang sebentar aja di Malam Tahun Baru engga boleh juga? Ya mungkin di bawah sadar mereka meraqsa atau berpikir seperti itu. Dan saat ini mereka cuma ingin sejenak melepaskan diri dari kesumpekan yang mereka hadapi tiap hari.

Dengan berpikir begitu, gue berusaha untuk mengerti, meskipun tetap ga bisa menemukan pembenarannya. Apalagi kalau melihat yang pada pakai mobil, most likely kan mereka bukan orang-orang yang susah-susah amat yak?

Anyway, perjalanan gw pun berlanjut terus sampai ke Masjid BI. Sewaktu masih di atas ojek, Iwan sempat sms, ngasi tau kalau Masjid BI penuh banget. Cuman gue ga tau apa sms-nya itu mewakili rasa suka atau enggak sukanya dengan situasi penuh seperti itu. Dan ternyata waktu gue sampai di Masjid BI, jamaahnya memang buanyak banget, sampe luber-luber keluar. Di pelataran samping kiri Masjid, sudah dimasang tenda biru (ngapain warnanya pake gue sebut segala ya..?) untuk menambah daya tampung, dan ternyata masih belum cukup juga. Untung aja enggak hujan.

Gue engga bisa menemukan Iwan, karena kan dia datang lebih awal, dan sudah berada somewhere di bawah tenda biru di tengah-tengah ratusan jamaah lainnya, jadi cuman bisa sms-an doang.

Dan ternyata, hal yang menyebabkan perasaan gue jadi unhappy masih harus bertambah. Si penceramah, entah ustadz siapa dan dari mana datangnya dan sedang dapat giliran ceramah saat gue sampai disana, sedang berbicara tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat. Secara baru terjadi musibah besar di Aceh dan Sumut, pastilah topik ini menjadi ‘hangat’. Masalahnya adalah, ustadz ini membawakan hadits berisi penjelasan tanda-tanda kiamat secara sangat-sangat letterlijk alias harafiah, tanpa membuka kemungkinan penafsiran lain atau kemungkinan bahwa terdapat makna lain di balik kata-kata yang tertuang dalam hadits ini. Dan it was all because hadits ini, menurutnya, adalah hadits yang mutawatir karena diriwayatkan oleh 30 orang perawi hadits. Pokoké ga usah ragu-ragu deh. Hiiyah..! Antara kesahihan suatu hadis dan bagaimana menginterpretasikannya, kan merupakan dua hal yang berbeda Pak. Meyakini kebenaran suatu hadits kan tidak harus berarti mengartikannya dengan secara sangat-sangat harafiah? Paling tidak, terhadap suatu hadits bisa juga ditinjau latar belakang atau penyebab disabdakannya suatu hadits, dan hal ini berarti membuka peluang untuk interpretasi lebih lanjut daripada sekedar apa yang tertulis.

Yang paling membuat gue fed up adalah pada saat si bapak ustadz ini sampai ke perihal munculnya Ya’juj dan Ma’juj, sebagai salahsatu tanda kiamat. Dengan sangat sembrono, menurut gue, dia menunjuk etnis tertentu sebagai Ya’juj dan Ma’juj yang akan membuat banyak kerusakan di atas muka bumi. Gue merasa amat sangat sebal pada saat dia menggambarkan ciri-ciri fisik golongan Ya’juj dan Ma’juj ini, yang kemudian dibumbui kata-kata yang kira-kira seperti ini: “Ga usah disebutkan ya…Kan udah tau sendiri kira-kira siapa”. Masalahnya adalah, dia samsekali tidak menjelaskan dari sumber mana dia mendapatkan ciri-ciri fisik tersebut, dari Al Qur’an kah, dari hadits kah? Yang jelas dia sisipkan masalah ciri-ciri fisik tadi ke tengah-tengah pembahasan suatu hadits yang mutawatir, seakan masalah ciri-ciri fisik tersebut memang menjadi bagian dari hadits tersebut.

Beberapa tahun yang lalu gue pernah membaca tafsir Al Azhar yang ditulis oleh Almarhum Buya Hamka. Di pembahasan salahsatu surah dalam Al Qur’an, Beliau juga sempat membahas tentang Ya’juj dan Ma’juj…Oya, gue inget, surah itu yang menjelaskan perihal Iskandar Zulqarnain (Alexander The Great-kah ? Atau Cirus Raja Persia? Atau bukan keduanya?  Wallahu a'lam). Sejauh gue bisa ingat dan sejauh ingatan gue engga salah, di dalam tafsir itupun Buya Hamka tidak menunjuk Ya’juj dan Ma’juj secara pasti sebagai kaum tertentu, dan Beliau membuka kemungkinan untuk penafsiran-penafsiran yang berlainan perihal masalah ini. Yang jelas, Beliau tidak sembrono. Yang jelas, bahkan Buya Hamka dengan ilmu seluas dan sedalam itu pun tidak mau melakukan hal yang ustadz ini lakukan.

Kesembronoan untuk menunjuk etnis tertentu sebagai Ya’juj dan Ma’juj tanpa memberikan informasi mengenai darimana dan bagaimana dia bisa memperoleh kesimpulan seperti itu, menurut gue adalah sangat dangkal. Yang membuat gue merasa amat kecewa dan jengkel sebetulnya bukan semata-mata karena merasa ada pertalian dengan etnis tersebut, melainkan karena pembicaraan ustadz tersebut menurut gue bukanlah pembicaraan yang bisa membawa kebaikan bagi umat. Malah seandainya jemaahnya yang mendengarkan ceramahnya tersebut adalah orang-orang yang berpikiran dangkal, maka akibatnya adalah sangat mengerikan: akan timbul kebencian dan kecurigaan terhadap orang-orang dari etnis tertentu, tanpa melihat siapa, dimana dan bagaimana orang-orang tersebut.

Amat mengecewakan buat gue bahwa di jaman seperti sekarang ini, masih harus ada dakwah yang seperti itu. Menyedihkan. Apa manfaatnya bagi umat?

Karena diterpa kekecewaan yang sangat besar, ditambah lagi gue engga bisa tenang melakukan dzikir, doa, sholat, dsb karena Masjid terlalu penuh, gue pun sms-an dengan Iwan, ngasi tau bahwa gue akan coba ke Sunklap aja, manatau disana lebih tenang keadaannya. Lagian gue pikir, kalau gue di Masjid BI terus jangan-jangan malah nambah dosa aja karena ngomel-ngomel terus perihal si ustadz itu. Eh, taunya Iwan juga tertarik dengan ide gue untuk pindah ke Sunklap. Berarti deze juga engga betah dengan suasana yang ada, sepertinya karena kondisi yang terlalu penuh jamaah. Ya wis, akhirnya gue kasi tau deze bahwa gue ada di sisi kanan Masjid dekat pagar yang banyak tukang jual makanannya. Dia masih bingung aja, gue kasitau lagi: “Sisi kanan kalau loe menghadap ke Masjid, bukan membelakangi Masjid; tenda biru loe itu di sisi sebelah kiri nha berarti gue di sisi yang satunya lagi”.

Gue tungguin…eh deze masih belum nongol juga. Eh tau-tau dia nelpon lagi masih binun, “Loe dimana sih?”. Yah, dia nanya lagi, gimana sih. Gue kasi tau lagi posisi gue, abis mana trus dia bilang: “Oo, yang di deket Tanamur itu ya”.... Iwan ya….Setelah gue konfirmasi bahwa: “He-eeuh, yang di deket Tanamur”, barulah dia paham.

Iwaan, Iwan, teteup aja ya loe, patokannya mesti Tanamur dulu, baru mudeng :)

Karena gak ada taksi yang mau bawa ke Sunklap dengan alasan jalanan macet, akhirnya kita sepakat untuk jalan kaki aja ke Sarinah, dari sana bisa naik bajaj atau ojek. Sepanjang jalan menuju Sarinah, gue dong yang masih aja engga bisa menahan diri untuk tidak ngomel perihal ustadz tadi. Abis gimana, bete bangeut. Seperti biasa Iwan hanya senyam-senyum sembari nonton orang ngomel. Tapi dia sempat bilang bahwa dia akan sampaikan kekecewaan dan keluhan gue itu ke temannya yang ngajak dia ke Masjid BI itu and kalau ga salah menjadi salahsatu panitia juga.

Of course kita juga ngebahas mengenai lalu-lalangnya orang di jalanan menyambut Tahun Baru, dan Iwan juga merasakan kekecewaan yang sama dengan yang gue rasain saat di perjalanan menuju Masjid BI tadi.

Waktu kita jalan di atas jembatan penyebrangan Thamrin yang ujungnya ga begitu jauh dari gedung Bangkok Bank, ada penjual terompet Tahun Baru yang jalan berlwanan arah dengan kita. Meskipun belum berpapasan, dari agak jauh dia udah mulai nawar-nawarin dagangan terompetnya. Mungkin karena enggak mendapat respon yang diinginkan, pada saat berpapasan dengan kita dia pun tiup-tiup terompet. Maksudnya ya menawarkan juga, cuman dengan cara lain. Tapi berhubung gue masih diliputi perasaan mangkel and bad mood, ngeliat dia niup-niup terompet gitu, yang ada mulut gue mencetuskan mantra: “Plis deh. I blow better than you do”.

Jutek.


Posted at 08:26 pm by baskinrobbins

Baskin
January 24, 2005   06:29 PM PST
 
panggilan jiwa dong, gimana lagi....
ben
January 24, 2005   04:53 PM PST
 
Selalu masalah tiup meniup hehehe........

Susah memang kalo dengerin ceramah dari ustad yang seolah2 dia tuh maha tahu ! bikin sesat orang ! Dan parahnya masih banyak yang seperti itu...............
rio
January 24, 2005   11:04 AM PST
 
gue sih nggak sejutek itu dengan orang2 yang lalu lalang. susah sih ya, kita emang sulit ngerasain kalo nggak nimpa diri sendiri.

gue baru jutek beneran sama ustadz2 yang kalo ngomong asal ngejeplak tanmpa nyadarin konsekuensi dan tanpa dukungan data yang kuat. nyebelin asli.

wekekek... tetep ya... biar ngebahas agak2 agamis juga akhirya pekerjaan tiup meniup itu yang jadi penutup:P.
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry